Skip to main content

Tentang Pernikahan : "Aku Cuma Mau Pergi Ke Tempat Yang Ada Kamu-nya, titik"

Woohoo judulnya agak agak gimana gitu yah? IYAH.
Menikah baru satu bulan pas. 1515, 1 Mei 2015. Saya yang masih bau kencur di dunia peristrian ini mau share salah satu pengalaman, dalam waktu satu bulan saya menikah. Saya yang belajar menjadi seorang blogger, pernah mengikuti salah satu kontes blog. Dan saat pengumuman pemenang 21 Mei (Terlambat 1 hari dari informasi yang di berikan pihak penyelenggara), saya tidak terpilih menjadi finalis yang bisa mendapatkan hadiah trip ke BALI. Sedih dong, walau tahu mungkin artikel yang saya kirimkan memang belum layak. 


Tapi ada keanehan yang terjadi, saya pernah denger nama salah satu finalisnya. Dengan perasaan agak kecewa karena belum menang, saya mencari tahu artikel apa sih yang di kirimkan finalis yang pernah namanya nggak terlalu asing itu. Karena syarat pendaftaran lomba blog ini adalah share di Facebook dan twitter, saya mencoba mencari tahu artikelnya via twitter.

Dan inilah satu-satunya yang muncul dengan hashtag #CopenGoesToBali 
Apa yang aneh? Gue sih langsung fokus ke tanggal ngetweetnya.
Seinget saya 20 Mei adalah hari pengumuman finalis, tapi koo ini baru ngetweet? And then, saya ingat koo, pas tanggal 17 Mei, admin yang ngadain blog contest ini juga ngasih tau kalau hari itu tuh hari terakhir buat ikutan #CopenGoesToBali :ooo


Jadi kenapa bisa begitu? Saya sih nggak mau berpikiran negatif, tapi koo agak aneh ya? Coba ah saya cek lagi syarat dan ketentuannya.



Tapi kooo ini begini? Nggak ada tampilan followers dan artikelnya di buat dari Maret. Yaaaa agak kecewa, udah kecewa gara-gara nggak kepilih, terus yang kepilih begini, Setahu saya sih ini juga salah satu profesional writer. 



Sebagai seseorang yang merasa di rugikan saya mengirimkan email kepada pihak penyelenggara tentang apa yang saya curigai. Jawabannya membuat saya tidak puas. Kapok ikutan blog contest, tadinya saya mau menyerah menjadi seorang blogger. Tapi saya tahu nggak semua penyelenggara seperti ini, masih banyak pihak lain yang mungkin lebih baik kinerjanya.


Saya pernah bekerja di sebuah agency, dan saya salah satu yang fokus di online activation, semacam Social Media Strategic gitu lah ya *padahal bukan, saya mah cuma admin, kerjaannya update status* Tapi saya tahu, memang ada beberapa kejadian yang "ngga profesional" dengan berbagai macam latar belakang. Ada yang memang pesertanya nggak mumpuni ada juga yang memang sudah di setting. Who's know...

Nah loh saya malah curhat ini, hehehe. Jadi berawal dari blog contest ini lah "masalah" itu muncul. Setelah beberapa hari, saya yang sedang online, mendapatkan telepon. Suara wanita. Menjelaskan bahwa dia adalah admin dari pihal penyelenggara contest yang sempat saya protes. 

Saya nggak terlalu inget percakapannya gimana, yang jelas dia bilang saya bisa ikut trip ke BALI. Katanya sih, ada salah satu finalis yang nggak bisa ikut, jadi gue yang juara harapan ini boleh menggantikan beliau. WOW. Amazing! Dapet uang saku, free akomodasi, pokoknya ngeTRIP sambil ngehadirin lauching produk brand penyelenggara tersebut. Tapi saya kan sudah menikah, kalau belum menikah, saya rasa saya akan langsung menjawab "IYA, SAYA IKUT". Akhirnya saya menjawab "Saya harus tanya suami saya dulu mba.. Paling saya kabari besok gimana?" Mbanya bilang nggak bisa, karena mau pesan tiket, akhirnya telepon di putuskan dengan perjanjian sekitar 15 menit lagi saya memberi kabar bisa ikut atau tidak. DEG, DEG. Boleh ikut nggak ya? Tega saya jalan-jalan sendiri?

Waktu saya mau kasih kabar sama Rudi, ternyata ada 3 misscall dari mba yang tadi telepon, dan ada message whatsapp juga dari mba Admin.


Saya message Rudi, Rudi nggak ngelarang saya buat pergi. Tapi koo saya tega? Masa cuma gara-gara hadiah ini saya rela ninggalin seseorang yang belum genap satu bulan jadi suami saya? #Istigfar



Dan dalam hati saya juga berfikir, apa benar saya terpilih menggantikan orang yang tidak bisa datang itu karena saya ada di posisi empat? Atau karena saya protes??? Entahlah. 

Sebagai manusia yang labil mungkin kita berfikir, loh koo kalau cewek yang ninggalin nggak enak, tapi kalau cowok boleh, buat mencari nafkah misalnya? Disinilah kita sebagai suami dan istri harus bijak mengambil keputusan. Mungkin bagi sebagian orang tidak masalah pergi tanpa pasangannya, tapi bukankah tempat terindah itu bukan "DIMANA" melainkan "DENGAN SIAPA" kita berada? Jadi buat apa pergi jauh kalau disana nggak ada pasangan kamu? Coba bayangkan kalau justru pasangan kita yang harus pergi tanpa kita, Gimana rasanya? :D


Dear Rudi, "Aku Cuma Mau Pergi Ke Tempat Yang Ada Kamu-nya, titik." ^_^
Selamat satu bulan sayang. #1515
I love you.


 

Comments

  1. Akupun sempet ninggalin suami karena 2 hari meeting nasional kantor. Malamnya? Kita berdua sama-sama gak bisa tidur, jadi chattingan aja.

    Saya sengaja bawa sweater suami, boboknya pake sweater itu. Besoknya pas baru ketemu langsung pacaran bareng makan keluar. Begitu rasanya bobok tanpa suami padahal cuma semalem. Rasanya... kangen ga ada yang bikin sempit kasur :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihihi, sebelnya pas abis kejadian ini, nggak lama suami ada outing dari kantor ke karimun jawa.. Saya nya nggak bisa ikut, hiks :((

      Delete
  2. Tahun lalu mah akunya belum jadi blogger. Baca ini antara ngeh dan tidak. Hahaha.
    Yang aku ngeh cuma kalimat akhirnya. Aih, kalian co cwit. Barakah terus ya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, makasih teh Langit. <3

      Delete

Post a Comment