Skip to main content

Dzulqo'dah 1436 H: Ke[m]BALI Lagi Atau Ke .... ?

Sudah lama ingin menuliskan pengalaman berlibur ke Bali tahun 2014 lalu. Namun ada saja halangannya, hehe. Sampai akhirnya hari ini saya berhasil menuliskannya di blog ini. Mungkin terdengar mainstream untuk beberapa orang yang sering melakukan traveling. Lagi pula saat ini sedang tren traveling ala-ala backpacker yang tujuan travelingnya adalah gunung. Tak usah dengar apa kata orang, traveling itu mengajarkan kita banyak pelajaran yang tidak kita dapatkan di tempat kita tinggal, tak harus menuju ke tempat yang sedang hits ataupun kekinian. Yang penting kita menemukan pengalaman yang berkesan, dan itulah yang saya temukan di Bali 2014 lalu.



Meski ini bukan first flight saya, tapi ini pertama kalinya saya pergi bersama teman-teman dengan pesawat. Biasanya sih naik motor atau mobil saja. Lumayan kita bisa hemat dengan tiket diskon yang dipesan tahun 2013 menggunakan maskapai Air Asia, hehe. Lebih specialnya, kali ini Rudi (saat itu masih calon suami) ikut rombongan, sehingga jumlah peserta kali ini mencapai 13 orang dewasa dan satu orang balita.


Perjalanan ke Bali kali ini dimulai tanggal 26 November dan pulang 29 November. Karena singkatnya waktu serta banyaknya tempat yang ingin kami kunjungi, tersusunlah jadwal sebagai berikut:
Days 2: Teluk Benoa, Pantai Pandawa, GWK dan Jimbaran.
Days 3: Bedugul, Tabanan, Pantai Sanur, Erlangga.
Days 4: Krisna dan Siap-siap Pulang.

Dari semua tempat yang direncanakan, ternyata ada beberapa tempat yang tidak kesampaian untuk dikunjungi yaitu GWK, Bedugul, dan Tabanan. Akhirnya dari semua tempat yang berhasil dijelajah saya merasa 5 tempat ini adalah tempat yang sangat berkesan.

Mengapa tempat ini berkesan? Bukan karena tari kecak, bukan karena pemandangannya. Ya meski pemandangan sunset disini romantis, namun saya memiliki kesan yang amat unik di Ulu Watu ini. Sama seperti saat saya kecil, konon makanan saya direbut oleh monyet. Dan kali ini bukan makanan, tapi Sendal saya yang diincar monyet-monyet di Ulu Watu. 

Penampakan monyet yang mungkin perampas sendal.
Saat itu beberapa teman ada yang sedang menyaksikan tari kecak. Namun saya memilih menikmati sunset saja di Ulu Watu ini sambil berfoto-foto. Saya dan Rudi menemukan spot yang menurut kita romantis, gambar pertama berhasil, gambar keduapun berhasil, dan pada saat pengambilan gambar ketiga, monyet berhasil mengambil sendal saya. Ingin rasanya mengambil kembali sendal itu, namun sang monyet kini didukung gerombolannya, dan siap-siap mengambil sendal saya yang sebelah lagi. Akhirnya, kedua sendal tersebut saya berikan pada monyet, daripada saya yang di cakar-cakar. Hiks.

Akhirnya saya bisa terbang! Meski deg-degan karena ini pertama kalinya melakukan paralayang, tapi saya nggak kapok. Malah rasanya ingin melakukan paralayang lagi. Dari ketinggian sekitar sekian meter saya bisa melihat birunya laut dan pinggir garis pantai. Semuanya Indah.


Selain paralayang saya juga mencoba Banana Boat dan menyebrang ke Deluang Sari untuk melihat penangkaran penyu. Lucu deh mereka, tapi saya nggak berani memegangnya. Jadi cukup foto-foto saja ya.



Siapa yang nggak kenal makan malam romantis di pinggiran pantai Jimbaran? Nah saya juga terhipnotis nih. Meski ada pengalaman di jutekin sama waiters-nya, tapi untungnya kesan romantis di Jimbaran ini nggak hilang.


Kita bisa menikmati banyak sea food sambil menikmati pesisir pantai yang anginnya sepoi-sepoi. Enaknya sih kesini pas sunset. Tapi malem-malem juga enak koo.

4. Bebek Bengil
Meski nggak sampai ke bedugul karena hujan dan sudah ada beberapa yang mabok, akhirnya saya dan rombongan mampir ke Bebek Bengil. Nah bukan menu atau rasa dari masakan yang bikin saya terkesan makan disini, tapi harganya lumayan tinggi, hihihi.


Rasa masakannya memang enak, dan suasana serta pelayanan di Bebek Bengil sangat baik. Yaa cukup sesuai dengan nilai yang harus dibayarkan. Meski sempet shock liat tagihan sampe juta-juta, ngalahin bayar beli tiket berangkat ke Bali, hihihi.

5. Bandara
Ah masa bandara jadi tempat berkesan? Iya dong, hehehe. Saya dan rombongan hampir ketinggalan pesawat. Ada lima orang yang masih on the way padahal kita udah mau check in. Parahnya ticket mereka ada di kita, minta dititipin pak satpam katanya nggak bisa takut ada apa-apa. Akhirnya kita masuk duluan, nungguin dideket pemeriksaan. Batas waktu check ini udah hampir habis, mereka masih belum datang. Hayooo tinggalin 5 orang itu, atau kita semua nggak jadi pulang ke Bandung???


Akhirnya kita sepakat meninggalkan seorang dipintu gerbang dan seorang di tempat check in. Sisanya nunggu di ruang tunggu. Berasa di film action kita semua jalan cepet dengan barang bawaan masing-masing. Untungnya pesawat delay, dan kita semua berkumpul meski sempat kesal pada 5 orang yang terlambat itu. Hihihi.

Dengan kesan bermacam-macam tersebut akhirnya saya menginginkan liburan lagi, tapi kali bukan ke[m]-BALI, saya ingin ke Yogyakarta bersama Suami tercinta dengan memakai maskapai Garuda Indonesia, yaa siapa tahu saya beruntung mendapatkan 10 #TiketGratisAirpaz. Kalau kesempatan itu datang, kami ingin menikmati romantisnya Yogyakarta. Ingin menuliskan kembali cerita di Kota berbeda. Doakan ya teman-teman. Aamiin.

Ada ide tempat apa saja yang wajib dikunjungi kalau ingin traveling di Yogyakarta?


Comments