Skip to main content

Syawal 1436 H: Jangan Enyahkan Rasa Kecewa

Rasa kecewa pasti pernah dirasakan oleh siapa saja. Ada anak kecil yang kecewa karena permen yang diinginkannya tidak dibelikan oleh orang tuanya. Mungkin ada juga pria yang kecewa karena lamarannya ditolak oleh gadis tercinta. Dan saat ini juga saya sedang kecewa, karena tidak terpilih sebagai pemenang dibeberapa kontes blog. Bukan satu atau dua, tapi beberapa. Saya merasa gagal menjadi seorang blogger. *hiks*


Maaf kalimat diatas terlalu didramatisir, tapi itulah kenyataannya. Saya memang sedang kecewa, ah iya apakah sebagai seorang manusia yang percaya pada janji Allah, kita boleh kecewa? Tentu saja boleh. Namun rasa kecewa yang kita rasakan jangan sampai membawa dampak negatif. Dalam dunia psikologi, ada yang mengatakan bahwa rasa kecewa harus segera dihilangkan, benarkah?

Pada kenyataannya Rasulullah pernah bersabda:
“Ada tiga perkara dimana tidak seorang pun yang dapat terlepas darinya, yaitu prasangka, rasa sial, dan dengki. Dan aku akan memberikan jalan keluar bagimu dari semua itu, yaitu apabila timbul pada dirimu prasangka, janganlah dinyatakan, dan bila timbul di hatimu rasa kecewa, jangan cepat dienyahkan, dan bila timbul di hatimu dengki, janganlah diperturutkan.”

Dari sabda Rasulullah, saya menyimpulkan bahwa rasa kecewa memang jangan segera dienyahkan. Ini bertolak belakang dengan ilmu pengetahuan psikologi yang sering saya dengar. Mengapa? Pada dasarnya rasa kecewa akan menimbulkan perasaan yang berkecamuk, ada energi yang kuat dari perasaan kecewa. Dan kita harus pandai menjadikannya hal positif. Saya sering menyebutnya "The Power Of Jealous". Mengapa kita kecewa? Karena apa yang kita harapkan tidak sesuai, di tambah lagi kita mengetahui orang lain mampu melakukan ataupun memiliki apa yang kita harapkan tersebut. Seperti menang kontes blog, hehe. Saya kecewa, mengapa teman saya bisa menang, tapi saya tidak? Apakah kualitas tulisan saya buruk? Mungkin iya. Oleh karenanya, rasa kecewa tersebut saya lampiaskan dengan mengikuti lebih banyak lagi kompetesi, agar saya memiliki peluang untuk menang, dan kelak rasa kecewa saya tidak akan menjadi rasa iri dengki. Kecewapun berevolusi menjadi semangat yang menggebu-gebu. Aamiin. "Dia bisa, mengapa saya nggak? Mungkin ada hal lain yang belum saya lakukan secara maksimal..".

Allah SWT, memiliki rencana yang indah untuk kehidupan kita selama kita mau melakukan hal-hal positif. Saat kita kalah, ada dua hal yang bisa kita lakukan, menerima kekalahan tersebut kemudian berusaha untuk menang di lain kesempatan. Atau kita menerima kekalahan dan tidak mau berusaha kembali. Untuk yang percaya pada jalan Allah, tentu saja menerima kekalahan kemudian berusaha kembali untuk menang, karena itu adalah ciri orang-orang yang sabar, dan Allah akan menyertainya.


Percayalah, ketika kita merasa apa yang terjadi itu sangat buruk, didepannya akan ada hal baik selama kita sabar dan terus melakukan hal positif. Saya punya cerita sangat nyata, saat itu saya yang bekerja sebagai penyiar radio, sangat menginginkan liburan ke Yogyakarta. Ada beberapa rekan yang sedang membicarakan liburan kesana, rata-rata mereka adalah pegawai BUMN yang baru saja mendapatan bonus. Ada perasaan "jealous", dan saya berfikir "Kapan saya bisa seperti mereka? Ya Allah, enak banget ya kerja seperti itu, saya juga mau kerja di BUMN dan bisa jalan-jalan..", dibulan Mei saya mendapatkan peluang pekerjaan bekerja di Taspen, salah satu perusaah BUMN. Sudah sampai tahap terakhir, yaitu interview. Pengumuman-nya bulan Oktober atau September, saya tidak terlalu ingat, dan hasilnya saya tidak diterima. Penantian lebih dari 3 bulan seperti sia-sia, dan pupus sudah keinginan untuk berjalan-jalan seperti beberapa rekan yang lain.


Namun siapa sangka, di bulan Desember ada sebuah seminar tentang "Kesetaraan Gender" yang digagas oleh Commonground, radio tempat saya bekerja diundang menjadi salah satu peserta. Saya dipilih untuk menjadi wakil seminar tersebut. Dan tempat seminar tersebut adalah Yogyakarta. Doa saya untuk dapat pergi ke Yogyakarta ternyata dijawab dengan jalan seperti ini, bukan jalan yang saya kehendaki diawal. Sayapun berfikir, jika saya saat itu masuk ke Taspen, belum tentu Desember ini bisa berangkat, karena pasti harus diklat dan melakukan on the job training. Bonusnya, jika saya pergi berlibur sudah pasti saya harus mengelurkan biaya sendiri. Kali ini, Alhamdulillah GRATIS, dan mendapatkan uang saku serta ilmu juga teman-teman baru. Sungguh rencana Allah itu indah... :)

Rasa kecewa yang awalnya saya rasakan begitu menyakitkan, terbayar dengan nikmat yang lebih indah dari Allah. Mungkin inilah yang menjadi penyebab rasa kecewa jangan dienyahkan, karena saat kita mendapatkan apa yang kita harapkan setelah sebelumnya kecewa, perasaan bahagia itu begitu besar dan membuat kita merasa sangat beruntung sehingga kita benar-benar bersyukur.

Nah setelah beberapa kali ikut lomba blog dan kalah, kira-kira kemenangan apa yah yang bisa saya dapatkan didepan nanti? Semoga rasa kecewa ini makin mendekatkan saya dengan ikhtiar yang baik. Aamiin, yuk semangat lagi ngeblognya! Semoga bermanfaat ^_^



Comments