Skip to main content

Syawal 1436 H: Pengajar Tanpa Gelar - Jangan Menyerah, Rencana Allah Sangatlah Indah

Saya pernah ingin menjadi guru. Dulu setelah lulus sekolah kejuruan tekhnik program pertelevisian, saya berharap bisa mengajar ditempat saya belajar tentang broadcast. Dengan pengalaman sebagai editor, narator, dan camera person, saya mencoba bertanya pada guru-guru saya di Sekolah tentang bisa mengajar atau tidak di SMK tempat saya bersekolah yang notabene masih sedikit guru yang mengajar dibidang tersebut. Banyak mungkin yang sudah ahli, tapi memilih langsung terjun di industri pertelevisian karena salary yang ditawarkan tentunya lebih besar dibandingkan dengan menjadi seorang pengajar honorer.


Namun siapa sangka, jawaban dari seorang guru yang juga dulu adalah guru saya sangat mengecewakan. Ia menyarankan saya untuk kuliah lagi, kemudian mengajukan diri menjadi guru. Katanya mungkin akan diterima jika sudah atau sedang kuliah minimal S1. Itu artinya 2-4 tahun lagi.. Saya sadar, memang menjadi seorang pendidik haruslah berpendidikan tinggi. Yaa mana ada yang mau anaknya dididik oleh orang yang tak berpendidikan? Hanya saja saya yang masih anak muda dengan usia 20 tahun merasa syarat yang diberikan guru saya tersebut sangat menyakiti. Dari situlah mimpi saya mengajar perlahan hilang. Niat saya berbagi ilmu yang saya dapatkan di industri pada adik-adik kelas saya akhirnya sirna, lagipula mungkin memang saya tidak berkompeten. Ah, saya benci dengan pemikiran seperti ini, seolah saya adalah orang yang tak memiliki kemampuan, padahal saya yakin Allah memberikan saya sesuatu yang bisa saya jadikan kelebihan untuk berbagi. Biarlah, saya melupakan impian itu.

Selepas rasa sakit hati yang tidak pernah saya ungkapkan pada orang lain tersebut, saya bekerja menjadi seorang editor video wedding, disambung menjadi seorang announcer, kemudian saya bekerja sebagai public relation di sebuah penerbitan indie. Semua berlalu begitu cepat, tahun 2012 tiba-tiba ada seorang kawan menghubungi saya. Dia adalah teman SMK saya, sekaligus pernah menjadi partner di Radio saat saya bekerja menjadi seorang Announcer, saat itu ia berkuliah di jurusan ekonomi UNJANI (Universitas Jenderal Ahmad Yani). Ada seorang anak dosen yang biasa ia berikan les private, dan karena kesibukannya ia mengundurkan diri. Ia meminta saya menggantikannya untuk mengajari anak dosen tersebut. Saya sempat kaget, saya yang terkenal pecicilan dan ngaco dalam berbagai bidang, masa mau mengajari anak dosen itu? Belum lagi trauma saya saat ingin menjadi pengajar di SMK. 

"Serius ini?" saya bertanya dengan nada yang agak heran.
"Iyalah, kamu kan memang bisa matematika.. Rumus kamu juga kan lain dari yang lain.." Ahahaha, ini sih namanya nyirikin. Saya tahu nilai matematika saya baik, jawaban yang saya berikan dulu saat belajar hampir semuanya sama dengan jawaban yang didapatkan guru. Namun sayangnya cara saya mendapatkan jawaban tersebut kadang tidak sesuai, malah berbeda jauh dengan rumus yang guru beritahu. Jadi bisa dibilang saya ini cuma beruntung mendapatkan nilai yang bagus. Lah wong sekarang aja pertambahan saya sering ngaco, tanya saja suami saya kalau tak percaya.
"Yaudah  masalah orangnya mau hire kamu atau nggak sih gimana nanti aja ya, sekarang aku kasih kontak kamu ke dosen aku, tar dia aja yang jelasin kamu ngajarin apa aja ke anaknya.." Begitulah kira-kira percakapan singkat antara saya dan teman saya yang namanya tak bisa saya sebutkan. *nanti dia tenar, hehehe *

Lama dari percakapan tersebut, barulah sang Dosen menghubungi. Saya bilang saja waktu saya tidak terlalu flexible, mengingat pekerjaan saya yang saat itu jauh dari rumah sang dosen, sehingga hanya bisa memberikan les diwaktu weekend. Dan Dosen tersebut bilang nanti akan menghubungi saya lagi. Sampai hari ini tak ada kabarnya. Meski gagal menjadi guru private, kepercayaan teman saya untuk menggantikannya menjadi pengajar membuat saya terharu. Ternyata masih ada yang mau mengakui kalau saya ini bisa berbagi apa yang pernah saya pelajari. Menjadi guru sepertinya masih semenyenangkan yang saya pikirkan. Ah, lupakan saja. Saya ingat kembali tentang apa yang dikatakan guru saya, kalau mau mengajar harus kuliah. Titik.

Mungkin jika passion saya memang menjadi pengajar dan pendidik, saya akan mengikuti saran guru saya, berkuliah lalu lulus dan menjadi guru. Namun saya memang tidak berpassion disana, sehingga saya sampai hari ini tidak berkuliah. Siapa sangka, ditahun 2013 kesempatan mengajar itu datang lagi. Kali ini datangnya dari teman SMP saya, seorang guru SD yang membuka les private dirumahnya.

Saya yang sedang berencana resign dari pekerjaan saya sebagai admin online shop dihubungi oleh teman SMP, dia bilang bersediakah saya mengajari anak SMP? Saya sempat cengar-cengir, notabene saya tidak ingat di SMP dulu belajar apa saja ya? Yasudah saya bilang tak apa-apa saya coba. Sebenarnya saya ragu, apa bisa saya mengajar? Bagaimana jika nanti anak-anaknya tidak mengerti? Coba saja dulu, itulah yang dikatakan teman saya, membuat saya sedikit yakin.

Namun ternyata Allah punya rencana lain, 2 hari setelah saya resign, saya mendapat panggilan bekerja menjadi PR Online yang notabene jobdesknya tak jauh berbeda dengan social media manager. Jadwal membantu anak SMP untuk belajarpun terhambat, ditambah pekerjaan yang masih harus saya adaptasikan serta jarak tempuh yang cukup lama. Akhirnya saya dan dua orang anak SMP yang saya bantu untuk belajar hanya sempat mengalami dua kali pertemuan.

Saya bingung, akhirnya saya berkata pada teman SMP saya untuk mengundurkan diri dari amanat yang ia berikan. Sedih rasanya mengecewakan orang lain yang sudah berharap pada saya, namun bagaimana lagi. Saya harus memilih. Lengkaplah sudah rasa trauma saya pada ajar-mengajar. Rasanya memang saya tidak cocok menjadi seorang pengajar, pendidik, dan guru. *hiks.

Allah punya rencana yang indah, meski saya memang tak bergelar guru. Suatu saat saya diberikan kembali kesempatan untuk mengajar. Kali ini bukan matematika, fisika, atau bahasa Indonesia. Saya dengan pekerjaan yang saya miliki saat itu diberi kesempatan untuk mengajarkan Social Media Handling dan E-mail marketing pada tahun 2014. Alhamdulillah.

 

Meski saya termasuk newbie dibidang ini, setidaknya berbagi pengetahuan itu tidak harus expert kan ya? *wink*. Ini pertama kali saya bicara lagi didepan publik, setelah terakhir saya nge-MC sekitar tahun 2012 disalah satu launching Film ujian anak-anak STSI. Dan inilah pertama kali saya mengajar dengan resmi. Honornya tak seberapa, tapi saat menyusun materi ini saya merasakan sesuatu yang menyenangkan. Berbagi itu memang indah, walaupun tidak seberapa.


Bukan hanya berbagi, dengan mengajar di IBS (Indonesia Business School) ini, saya juga mendapatan relasi yang cukup banyak. Mulai dari anak muda yang usianya dibawah saya, sampai pada beliau-beliau yang berpengalaman (mau bilang tua tapi takut disangka nggak sopan, hihih). Saya teringat kembali perasaan saat ingin mengajar di SMK tempat saya sekolah dulu, tapi mungkin bukan itu jalannya. Sama seperti pengelaman saya yang lalu, betapa sebenarnya rencana Allah jauh lebih indah. Jika saya saat tahun 2010 diterima sebagai guru honorer, mungkin saat ini saya masih berkutat dengan murid-murid saya, baru lulus kuliah, belum menikah, dan entah sudah jadi PNS atau belum...

Saya sadar, terkadang saya sibuk berdoa dan berusaha untuk meraih apa yang diinginkan, tapi lalai memantaskan diri untuk ada diposisi tersebut. Kesempatan itu pasti datang saat saya sudah siap. Allah Maha Mengetahui batas kemampuan hambaNya.

Walau sekarang saya sudah tidak lagi mengajar dan tidak ada niatan menjadi guru, saya harus mempersiapkan diri menjadi Madrasah terbaik bagi anak-anak saya kelak. Aamiin. :)
Semoga bermanfaat, jangan menyerah :)

PS : Untuk yang mau materi "All About Social Media" yang saya susun silahkan email saya ya. Gratis koo. *wink*

Comments