Monday, 5 September 2016

Sudah Siapkah Kita Menjadi Orang Tua???

Punya anak itu berjuta rasanya. Nggak bisa dibilang selalu menyenangkan ataupun kerepotan. Pasalnya anak itu kan titipan Allah yang harus dijaga sebaik-baiknya. Setelah baca tulisan Mba Zia tentang Tiga Fase Mendidik Anak, saya jadi speechless. Langsung kepikiran Khalif, kira-kira bisakah saya mendidiknya agar menjadi hamba Allah yang taat dan bermanfaat??? Pe-er jadi orang tua itu segambreng. Padahal sih gampang, tinggal pakai petunjuk yang ada dalam Al-Qur'an dan Hadist. Nah masalahnya bisa nggak saya menerapkan itu semua?


Subhanallah banget tantangan jadi orang tua saat ini. Ancaman pornografi adalah salah satu bahaya yang mengintai semua anggota keluarga, khususnya anak laki-laki. Konon, anak laki-laki menjadi target karena apa yang mereka rasakan mudah dilihat oleh orang lain. Laki-laki biasanya tak bisa menahan apa keinginannya, sehingga munculah kasus-kasus kriminalitas. Naudzubillah..

Sudah Siapkah Kita Menjadi Orang Tua?
Siap nggak siap ya harus siap. Kebanyakan orang tua berkilah "Jadi orang tua itu kan nggak ada sekolahnya? Jadi wajarlah sambil belajar...". Punya bisnis bisa gagal, kemudian mengulang. Sekolah, nggak lulus ujian, ada ujian ulangan. Nah kalo mendidik anak? Eng ing eng... Masa mau remedial? Sementara anak sudah terdidik dengan salah. Astagfirullah...

Sayapun saat Khalif dalam kandungan, sudah membicarakan dengan Rudi "Akan jadi apa Killua kelak?". Pernah sekilas kami bicara profesi yang kira-kira bisa dilakoni oleh Khalif. Padahal itu salah, hal utama yang harusnya menjadi prioritas kita untuk dicapai oleh anak adalah "menjadi hamba Allah yang taat". Yaa, iman dan taqwa adalah hal paling utama yang mesti kita tanamkan pada anak. Bukan harus tenar atau jadi selebgram. *ehhh*

Taqwa, menjalankan perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah. Masalahnya, sudahkan kita sebagai orang tua melakukan hal tersebut? Anak adalah peniru ulung. Yaa, percuma nyuruh anak sholat dan mengaji sementara orang tuanya sibuk maen COC atau nonton drama korea. *uhuk*

Kesalahan yang biasanya terjadi saat menjadi orang tua adalah:

1. TAK ADA KESEPAKATAN POLA PENGASUHAN.
Kalau kita seorang muslim, pasti tahu dong apa sebenernya tujuan manusia lahir ke dunia? Tentunya menjadi khalifah, mukmin yang baik sehingga kelak di akhirat mendapatkan balasan dari Allah. Sayangnya kita sering lupa. Sayapun, diasuh oleh pola asuh yang "kurang baik". Saya diajarkan untuk mencari ilmu kemudian mencari pekerjaan untuk kehidupan yang lebih baik. Saat itu saya belum mengerti apa tujuan hidup manusia di dunia. Sampai akhirnya saya dewasa dan menikah, barulah saya sadar. Tak akan ada habisnya kita mengejar dunia, karena seharusnya yang kita kejar adalah urusan akhirat.

Papa saya adalah seorang non muslim, dulu tidak ada yang mengajarkan saya tentang ilmu-ilmu agama kecuali mamah dan guru agama. Saya kehilangan sosok ayah dalam sisi spiritual, Meskipun Papa adalah type orang tua yang mendampingi kami, apalagi sejak tidak bekerja. Banyak hal-hal yang bisa saya kerjakan bersama Papa, kecuali shalat dan puasa. Alhamdulillah saya masih muslim. Dari apa yang saya alami, saya menyimpulkan Mama dan Papa memang tidak merumuskan apa tujuan pengasuhan mereka pada anak-anaknya. Meskipun mereka mendidik kami untuk menjadi manusia yang strong, tapi tetap saja pola pengasuhan mereka tidak sama.

Saya pernah mengikuti seminar dari Bunda Elly Risman, beliau mengatakan ada 7 hal utama yang sebaiknya disepakati orang tua dalam mengasuh anak-anaknya, yaitu:
  • Mendidik anak agar wajib menjadi hamba Allah yang baik.
  • Mendidik anak menjadi calon suami/istri yang baik.
  • Mendidik anak agar siap menjadi Ayah/Ibu yang baik.
  • Mendidik anak agar bisa menjadi seseorang yang profesional ataupun menjadi entrepreneur.
  • Mendidik anak agar bisa menjadi pendidik istri/anak-anaknya.
  • Mendidik anak agar bisa mejadi penanggung jawab keluarga.
  • Mendidik anak agar bemanfaat bagi orang banyak.
Bisa nggak ya saya dan Rudi mengasuh Khalif seperti itu? Mendidiknya dengan penuh kasih sayang namun tidak membuatnya manja? Mampukah kita mendidiknya dengan baik? Insyaallah, bisa.

Baca Juga: Arti Nama Khalif

2. NILAI ANAK DIANGGAP RENDAH
Uhmm... Berapa sih nilai anak? Kalau jawab pertanyaan ini pasti pada bilang "Priceless". Tapi bener nggak ya kita sudah benar-benar memberikan yang terbaik untuk titipan Allah yang sangat berharga ini? Maaf, bukan mendeskreditkan Ibu yang bekerja kantoran, tapi kebanyakan Ibu yang bekerja diluar rumah "mengsub-kontrakan" anak pada neneknya atau bahkan pada baby sitter.

Mungkin inilah alasan Rasulullah menyuruh kita mencintai anak yatim. Pada dasarnya, Rasulullah tidak menganjurkan wanita bekerja diluar rumah. Karena seharusnya madrasah bagi seorang anak adalah IBU-nya, bukan baby sitternya. Ada yang pernah bilang sama saya, dia bekerja karena ingin membantu beban suami. YAKIN? Apakah gaji suami tidak cukup untuk kebutuhan hidup? Kebutuhan hidup dan keinginan apalagi gaya hidup itu berbeda. Yuk bu-ibu yang merasa suaminya masih mampu memberikan nafkah untuk kebutuhan hidup, sebaiknya bekerja dirumah saja sambil mendidik anak semaksimal mungkin. :)

Lain halnya pada seorang Ibu yang bekerja karena dialah tulang punggung keluarga, nah inilah salah satu manfaat dari mencintai anak yatim. Seandainya semua warga Indonesia mencintai anak yatim, maka tidak akan ada lagi alasan seorang ibu bekerja keluar rumah demi anak-anak yang sudah ditinggalkan Ayahnya. Ya, aturan dan petunjuk Al-Qur'an memang indah. Sempurna untuk menjadi pedoman hidup manusia. Tapi, kadang manusianya yang lupa. Melupakan apa yang sudah menjadi kodratnya.

EMANG KENAPA SIH KALO IBU BEKERJA DILUAR RUMAH?
Seorang bayi baru lahir, membutuhkan kedekatan dengan Ayah dan Ibunya. Bayi bisa saja stress ketika berpisah dengan ibunya (Separation Anxiety), dan stress pula saat bertemu orang baru yang asing (Stranger Anxienty). Nah, buibu kebayang nggak pas bayi baru mau hafal dan mengenal wajah ibunya tapi tiba-tiba ia harus dititipkan karena sang Ibu harus bekerja? Ketemu hanya dari jam 7 malam sampai jam 7 pagi? It's choice, dan saya memilih bekerja dirumah untuk menjaga kedekatan dengan Khalif.

Balik lagi ke poin kesalahan yang biasa dilakukan, kita sering menganggap remeh nilai anak. Apakah kita sudah memberikan gizi seimbang untuk Fisik, jiwa, dan spiritualnya? Ditambah lagi peran Ayah, seberapa sering Ayah bicara dengan anak? Seberapa sering mereka menghabiskan waktu bersama? Seberapa sering Ayah tahu kondisi hati anaknya? Jangankah Ayahnya, mungkin Ibunya pun tidak tahu.

Solusinya, harus ada kesadaran orang tua bahwa anak adalah titipan dari Allah yang harus dididik dengan sepenuh hati dan penuh kasih sayang. Tanggung jawab pengasuhan anak, berada ditangan kedua orang tuanya. Bukan hanya Ibu, ataupun Ayahnya. Jadikan anak prioritas utama, dan ingat bahwa mendidikanya adalah amal kebaikan yang diberikan banyak pahala oleh Allah.

3. TIDAK MAU BELAJAR
Jadi orang tua memang nggak ada sekolahnya, tapi bukan berarti nggak ada ilmunya. Sebagai orang tua, seharusnya kita mau mengerti dan tahu bagaimana TAHAPAN PERKEMBANGAN ANAK serta bagaimana cara OTAK ANAK BEKERJA yang berpengaruh pada KEPRIBADIAN dan MASA DEPAN ANAK kelak.

Baca Juga : Juara MTQ Kecanduan Pornografi

Sulit memang melakukan itu semua, namun bukan berarti tidak bisa. Yang paling berpengaruh pada kedua hal tersebut salah satunya adalah KOMUNIKASI orang tua terhadap anak. Komunikasi tidak terbatas pada apa yang diucapkan, ada banyak cara berkomunikasi. Yang paling sering dilupakan adalah bahasa tubuh. Cobalah untuk tidak tergesa-gesa dalam berbicara, tidak berteriak, dan perhatikan juga emosi anak saat kita akan berbicara. Belajarlah untuk lebih memahami apa KEUNIKAN, KEBUTUHAN, dan KEMAUAN anak. Jangan hanya mementingkan apa yang menurut orang tua penting.

Jangan sampai anak merasa BLAST. Alias, Bored, Lonely, Angry/Afraid/Anxious, Stressed dan Tired. Mengapa? Tonton dulu video ini yuk!


Nonton video ini saya jadi terharu. Sedih denger fakta yang ada, tapi optimis dengan gerakan SEMAI 2045. Mudah-mudahan kita bisa membuat generasi emas yang benar-benar baik ditahun-tahun mendatang. Aamiin. Yuk sama-sama belajar jadi orang tua yang pengertian! ;)

Apa yang terjadi pada anak-anak adalah cerminan dari lingkungannya. Bukan hanya rumah, tapi juga lingkungan sekolah dan pergaulan. Sudah siapkah kita menjadi orang tua yang bisa mendidik anak sebaik-baiknya?

Insyaallah. Niatkanlah karena Allah, pasti bisa.
Sekian curhatan sekaligus self reminder buat diri saya, semoga bermanfaat! ^_^

25 comments:

  1. Saya juga kudu kerja dari rumah nih, kalau pun kerja diluar palingan dosen :D demi anak :)
    Mari kita lebih semangat Teh Amy!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa teh, Semangaaaaattt!!! :D
      Semoga bisa terus kerja dari rumah, ato sukur2 nggak kerja lagi lah yaaaa. Fokus ngurus anak-anak lutcu :D

      Delete
  2. siap ga siap memang kita harus siap menjadi orang tua. Nice info

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kalo udah nikah mah mau nggak mau harus siap :D

      Delete
  3. haduuuh mengenak banget ini... makasih tips dan saran inspiratifnya.. ayooo move ooon

    ReplyDelete
  4. Semoga kita bisa jadi orang tua yang amanah ya, My. Selamat belajar menjadi orang tua, untuk kita semua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, Insyaallah ya teh kita melakukan yang terbaik sesuai ajaranNya. ^^

      Delete
  5. iya betuul..
    Aku resign kerja pas lahiran karena hanya ingin mengurus sendiri, meninggalkan dunia kerja demi anak, khawatir dengan pergaulannya kelak. Gimana pun pendidikan dr rumah adalah awal ya Amy..selebihnya pergaulan di luar hanya tinggal memantau .

    Semoga kita bisa menjadi orang tua terbaik buat anak2nya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin teh, Walopun kita dirumah juga bukan jaminan akhlak anak jadi baik. Tapi seenggaknya kita bisa mantau sendiri perkembangan anak. Semoga bisa terus kerja dari rumah. ^^

      Delete
  6. Setuju....

    Ok lah.... Aku jd mikir... Setahun menikah aku blm punya anak padahal pengen bizanget.... Munngkin aku dan suami blm dianggap siap.kali ya ma Allah hehhehe

    Semogaaaaa segera ada anak ya buat aku hehehe amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga disegerakan ya mba. Kalau belum, jangan sedih. Insyaallah ini yang terbaik dari Allah, teteeep semangaaat! ;)

      Delete
  7. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang mampu mendidik dan menjaga anak-anak kita sebaik-baiknya ya teh.

    Selalu smangat belajar jadi orangtua yang bijak, sabar, dan amanah. Aamiin. :*

    ReplyDelete
  8. Artikel yang bagus mbak, semoga bisa menginspirasi para orangtua agar lebih baik. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, makasih sudah mampir yaa ^^

      Delete
  9. Siap atau tidak siap orangtua harus mengemban amanah ini dan melakukannya dengan ikhlas, baik dan benar.
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pak de, semoga amanah yang diberikan ini bisa dijalani dengan sebaik-baiknya ya. Aamiin ^^
      Salam hangat dari bandung :D

      Delete
  10. aNak adalah amanah.. mengantarnya ke surga adalah kewajiban kita sebagai ortu.., tapi semua tidak mudah... sebagai orang tua kita harus terus belajar jadi yang terbaik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, semoga kita semua bisa sama-sama melakukan amalan-amalan baik didunia untuk bekal diakhirat nanti ya. Aamiin ^^

      Delete
  11. Menjadi orang tua itu susah namun gampang. Yang penting enjoy dan terus belajar memahami anak

    ReplyDelete
  12. Aku belum punya anak sih teh, baca ini jadi nambah ilmu.. Hehe
    Tapi keknya nanti kalo punya anak kemungkinan mau diarahin jadi selebgram deh kayak mamahnya #eh #dikeplak :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, *langsung ngintip followers* :D :D :D
      Jangan lupa follow IG khalif yaa @babykhalif :D

      Delete