Friday, 10 August 2018

Review Natur Hair Care, Membuat Rambut Kuat Dari Akar!

Hai guys, pernah denger nggak mitos kalo punya anak laki-laki rambut emaknya bakal jadi lebih rontok? Hihihi, dulu saya nggak percaya, tapi koo ternyata kejadian ya ama saya? Pas usia Khalif 3 bulan, rambut saya mulai rontok parah. Bukan karena hormon, tapi karena ditarikin melulu sama tuh anak bayi. Terpaksa saya motong rambut diatas bahu supaya kalo lagi main sama Khalif, dia nggak bisa narik-narik rambut saya lagi.

Kebayang kan kalo rambut yang ditarik. (╥﹏╥)

Rontoknya rambut pada manusia terutama perempuan sebenernya bukan hal aneh. Dari yang saya pernah baca, normalnya kerontokan itu 50 helai perhari. Nah kalo misalnya kita ngerasa rambut rontoknya 49 helai sehari, itu masih batas normal. Tapi kalo lebih, kita harus waspada! Karena lama kelamaan rambut rontok bisa menyebabkan kebotakan! Duh, amit-amit yaa. Meski pake jilbab, kalo botak mah atuh da gamau saya mah.

Tuesday, 7 August 2018

Colour To Life : Quality Time Bersama Keluarga

Menjadi seorang Ibu memang luar biasa. Banyak hal yang awalnya bisa dilakukan dengan leluasa, kini berganti menjadi penuh drama. Jangankan liburan ke luar kota, masuk kamar mandi saja anak sudah meronta. Bersyukur banget saya punya suami yang mau mengerti. Berbagai kegiatan diluar rumah masih bisa saya ikuti. Pun dengan "Me Time" dirumah. Meski sebentar rasanya itu membuat saya tetap waras. Padahal mah yaa klo mau waras bukan kurang piknik, tapi kurang dzikir. Hehehe.

Buat saya, rasa capek ngurus dan mikirin tetek bengek rumah tangga terutama anak, bisa hilang dengan "Me Time". Nggak harus ke salon atau shoping ke mall. Cukup dirumah, mandi sambil luluran, melakukan hobi main games, atau tidur siang sampai bosenpun bisa membuat saya merasa bersemangat kembali. Yaa syukur-syukur bisa jalan-jalan menikmati suasana pantai di Pattaya atau melihat indahnya arsitektur kota Bangkok sambil belanja. AAMIIN.

Fyi, dulu saya suka banget "Me Time" dengan nonton drama korea, bisa satu drama yang 20 episode itu dihabiskan seharian. Kebayang nggak sih? Sampe rela nggak tidur malem gara-gara penasaran. Saya rasa itu udah nggak sehat. Niatnya "Me Time" malah jadi kaya "Lazy Time". Dengan tekad bulat, akhirnya 2 bulan yang lalu saya memutuskan berhenti nonton drama korea. Alhamdulillah setelah keputusan berat itu, saya punya waktu untuk melakukan hal lain. Inginnya sih beraktivitas yang mengasah kreatifitas. Tapi apa ya? Masa main games???? 

Akhirnya pertanyaan saya terjawab. Saya dapet paket Colour to Life dari Faber Castell. Berasa dapet jawaban dari langit gitu lah. Saya seneng banget, karena konon katanya di Colour to Life ada gamesnya! Hahaha, bukan deng tapi karena saya bisa menyalurkan hobi mewarnai saya yang udah lama terlupakan. Waktu ngeluarin paket Colour To Life, suami saya nanya itu apaan? Saya jawab ini buku gambar sama spidolnya. Bagus loh pah bisa jadi 3D gitu gambar kitanya. Lalu doi berlalu, sepertinya nggak ngeuh sama apa yang saya obrolin. Ya sudahlah biarin. Sementara saya amanin dulu Colour to Life buat bikin reviewnya, karena kalo saya biarkan ini jatuh ditangan Khalif, saya yakin nggak lama semuanya akan hilang entah kemana.


Pas Khalif tidur, saya coba bikin video unboxingnya. Kira-kira ada apa aja sih dalem paket Colour to life ini?

Friday, 3 August 2018

Qurban tak sekedar berqurban, Zakat tak sekedar berzakat bersama Rumah Zakat

Hari gini, siapa sih yang nggak tahu Rumah Zakat? Rumah Zakat adalah lembaga filantropi yang mengelola zakat, infak, sedekah, serta dana sosial lainnya melalui program-program pemberdayaan masyarakat. Program pemberdayaan direalisasikan melalui empat rumpun utama yaitu Senyum Juara (pendidikan), Senyum Sehat (kesehatan), Senyum Mandiri (pemberdayaan ekonomi), serta Senyum Lestari (inisiatif kelestarian lingkungan).

Rumah zakat bandung

Saya sendiri udah lama tahu ada lembaga rumah zakat, tapi nggak tahu apa aja yang dikelola disana. Paling sering liat spanduk-spanduknya saat Ramadhan dan menjelang Idul Adha, hehehe. Alhamdulillah, 30 Juli 2018 kemarin saya dapet kesempatan dateng ke kantor rumah zakat di jalan turangga no.33 Bandung sebagai saksi komitmen Rumah Zakat untuk mewujudkan mimpi kemanusiaannya menolong saudara-saudari kita di Lombok Timur, dan Yordania.

Saturday, 28 July 2018

Ambulans Mini ICU Daihatsu, Hadiah Untuk Layad Rawat Pemkot Bandung

Saya baru tahu kalo di Kota Bandung ada program Layad Rawat. Sebuah program dari Dinas Kesehatan Kota Bandung dimana kini pasien yang punya keadaan darurat nggak perlu susah-susah cari kendaraan pribadi buat mendatangi klinik atau rumah sakit. Hanya dengan tekan 119 dari telepon atau handphone maka bantuan akan datang. Insyaallah estimasi kedatangannya 20 menit dari setelah melakukan panggilan.


Program yang diusung Bapak Wali Kota Ridwan Kamil ini, sudah berjalan selama 1 tahun. Ada sekitar 60.000 panggilan yang masuk dalam 365 hari, dan 10.000 diantaranya adalah hanya telepon iseng. Alhamdulillah 50.000 lainnya merupakan panggilan asli dengan kebanyakan dari usia lanjut. Program ini gratis dan bekerjasama juga dengan BPJS. Kebanyakan keadaan darurat yang ditangani setahun kebelakang adalah Stroke, Darah Tinggi, dan Serangan Jantung.

Sunday, 22 July 2018

Pakai Kartu Kredit Bisa Buat Kondisi Keuangan Sehat, Masa Sih?

Kebanyakan orang menggunakan kartu kredit untuk berbagai transaksi tanpa tahu apa yang seharusnya jadi tujuan penggunaan kartu kredit itu. Oleh sebab itu, beberapa di antara mereka kadang merasa terjebak dan kondisi keuangannya malah makin memburuk karena kartu kredit. Padahal, ini sebenarnya murni kesalahan pengguna kartu kredit tersebut, lho!


Pasalnya, bila kita menggunakan Kartu Kredit secara bijak, kondisi keuangan malah akan jadi sehat. Lho, kok bisa? Bisa! Sekali lagi, asal kita bisa menggunakannya dengan bijak, kondisi keuangan kita akan sangat terbantu dengan kartu sakti ini. Lalu, bagaimana bisa kartu kredit ini buat kondisi keuangan kita sehat? Cek rinciannya berikut ini!

Tuesday, 12 June 2018

Ketika Rokok Harus Mahal

Seorang gadis kecil disuruh ibunya membelikan rokok, seribu dapat tiga sekitar tahun 2000. Tak lama, Ayahnya memberikan titah. "Tolong belikan juga, rokok seribu dapat empat, cokelat warna bungkusnya". Ayah dan Ibu merokok dirumah habiskan pundi-pundi rupiah, tapi mereka kadang lupa bayar SPP sekolah.  Bahkan beberapa tak bisa beli beras, tak mampu beli lauk. Entah lupa atau dilupakan kebutuhan primer sering diabaikan. Mereka bilang, itulah cara orang dewasa melepas penat. Sebuah cara mereka melupakan sejenak sengsaranya kehidupan. Lewat asap-asap yang terkadang membuat batuk, bahkan stroke, mereka melepas kesedihan. Dengan meluapnya asap-asap yang membawa jutaan kemudharatan, mereka menghempas beban hidup yang kian lama kian mengembang. Potret keluarga miskin ini sering saya lihat. Bahkan terjadi dikeluarga saya sendiri.

Img source : https://bit.ly/2t3MCzm

Sejak kelas 5 SD, saya divonis punya flek diparu-paru. Pengobatan yang belum terjangkau BPJS, membuat keadaan ekonomi makin runyam. Bukannya berhenti, rokok-rokok itu makin sering dihisap. Meskipun tidak lagi satu ruangan, namun tetap saja baunya masih bisa saya kenang. Ah, andai dulu saya bisa berteriak. Menuliskan petisi untuk kedua orang tua saya atau minimal update status agar komisi perlindungan anak bisa membawa saya sebentar saja. Butuh waktu yang lama hingga akhirnya saya sembuh.

Tuesday, 22 May 2018

3 Alasan Buka Bareng Di The Food Opera Bandung

Salah satu drama yang terjadi saat Ramadhan tiba adalah “Buka Bareng”, bener nggak sih? Kapan dan dimana adalah pertanyaan yang jawabannya selalu menggantung. Ada yang jawab “Bebas”, “Aku sih ikut aja”, bahkan ada juga yang bilang “Terserah”. Pas diusulkan tanggal dan tempatnya tiba-tiba banyak argumen “Yah bentrok” dan “Yah kejauhan”. Ngaku dalem hati ajalah, nggak usah bersemangat bilang “iya iya bener”-nya. Hehehe.

The Food Opera Bandung

Lain halnya dengan buka bareng blogger Sabtu, 18 Mei kemaren. Diajakin Teh Ida buat buka bareng di The Food Opera Bandung saya langsung iya-in aja. Pertama tahu nama cafenya, saya coba cari di google maps, ternyata diarahin ke area Dago. Agak heran sih, tapi akhirnya saya tahu kalo itu karena awalnya The Food Opera buka cafe disana dengan menu khas Mediteranian sekitar tahun 2010, dan pindah ke Pekan Baru tahun 2015. Nah tahun 2018 inilah The Food Opera Bandung kembali beroperasi di Jalan Gandapura no.27 Bandung.