Skip to main content

Dzulqo'dah 1436 H: Catatan Tentang Iyan

Selamat ulang tahun kakakku sayang. *ketcup. Tanggal 2 september 2015, hari dimana usianya genap menjadi 29 tahun. Bukan kakak kandung saya, tapi ia adalah sepupu satu-satunya dari keluarga Mamah. Namanya Yulandari, namun saya lebih suka menyebutnya Iyan. Nama itu berasal dari kesulitan saya saat memanggilnya dengan panggilan Cici Yulan, sehingga tercetuslah panggilan Iyan agar mudah menyebutnya. Panggilan kecil itu terus berlangung sampai saat ini. 

Adik saya (Eky) , Saya , Iyan, Kakak Saya (Ko'Enu)
Banyak hal aneh yang ia lakukan, kadang saya tak mengerti jalan pikirannya, apalagi masalah percintaan. Selalu rumit dan memang sulit, saya hanya bisa memberikan saran dan semangat agar Iyan tak pernah menyerah. Sampai pada suatu hari beberapa bulan yang lalu ketika saya belum menikah, Iyan sempat divonis mengidap tumor rahim. Karena Iyan adalah anak semata wayang, ia bercerita pada saya sambil menangis dan berkata jangan dulu memberitahu Ibunya. Saya mengiya-kan. Lagipula vonis tersebut belum benar-benar positif karena dokter belum melalukan tes darah dan urine.

Namanya wanita, selalu ada drama dalam sisi kehidupannya. 30 Maret 2015, saat akan di tes Iyan menangis, saya mencoba menenangkan. Padahal saya sendiri juga takut kalau hasilnya positif. Dan setelah cek darah serta urine, kami menunggu di ruang tunggu Santosa Hospital. Sudah setengah jam, tapi tak ada tanda-tanda hasil tes akan keluar, saya menanyakan pada customer service kira-kira kapan hasil tes keluar. CS tersebut bertanya pada bagian laboratorium, agak lama. Sepuluh menit kemudian CS kembali, lalu berkata hasil tes baru akan keluar dua hari lagi. WHAT??? Itu artinya adalah tanggal 1 April, sedangkan 1 April Iyan harus pergi ke Batam karena dimutasi dari bekasi. Panik dong kita. Dengan perjuangan, bulak balik ke CS dan asisten dokter (suster ato apa ya namanya?), akhirnya hasil lab bisa keluar besok pagi. Dan sebelum pulang, saya dan Iyan kulineran dulu. Hihihihi.


Dulu waktu saya dan Iyan sama-sama kerja di Bandung, kita sering banget jalan berdua. Dia yang sering traktir, kayaknya saya nggak pernah nraktir dia *duh* #tutupmuka. Kali ini kita menuju ke Rasa, Bakery and cafe. Begitu masuk, nuansa di Rasa ini bener-bener asik.


Cocok banget buat yang mau makan malam romantis atau makan malam manis barengan sama keluarga. Ternyata menu di Rasa Bakery and Cafe inipun beragam, mulai dari western sampai makanan khas Indonesia. Ininih beberapa halaman menu yang sempat saya foto, hehehe.



Dengan beragam pilihan makanan akhirnya pilihan saya dan Iyan jatuh pada beberapa makanan berikut ini.

1. French Fries And Sausages


Menu ini termasuk salah satu menu beverages yang klasik, hehe. Dengan sok diet saya memilih menu ini. Harganya lumayan tinggi, 40K perporsi. Sausenya tidak terlalu special, namun rasa sosis dan kentangnya gurih.


Ekspektasi saya, dengan harga 40K, sosisnya akan berukuran lebih besar dan tak perlu diiris tipis. Namun kekecewaan saya tertutupi dengan pelayanan dan atmosfer Rasa Bakery and Cafe yang nyaman.

2. Lontong Komplit


Lontong Komplit ala Rasa Bakery and Cafe ini dibandrol dengan harga 30K. Porsinya cukup banyak, saya dan Iyan kesulitan untuk menghabiskannya, ditambah lagi saya sudah menyemil sosis dan kentang. Namun sambil bicara banyak hal, akhirnya kita berdua berhasil menghabiskannya. *yeeeay nggak jadi mubazir*. Kuah lontong ini nggak terlalu kental, cocok dilidah saya yang nggak terlalu suka santan. Masalah rasa lontongnya nggak usah ditanyain lagi, enak! Nggak terlalu biye (lemas) dan nggak terlalu keras. Pulen dan fresh!

3. Coconut Royale

Harusnya sih ini dipesan terakhir, namun apa daya justru ini yang datang duluan. Jadi sebelum datang french fries dan lontong, sang Coconut royale ini datang lebih dulu, sehingga saat selesai makan, ice creamnya sudah agak mencair. Dengan harga 38K, coconut royale ini terasa sangat manis. Saya lebih suka ice cream cokelatnya ketimbang yang vanilla ataupun yang strawberry.

4. Teh Panas

Ini menu paling murah. Harganya hanya 6K. Saya lebih suka minuman panas ketimbang dingin, kecuali ice cream ya *emangnya ada ice cream panas* adasih*  karena sadar kalau Asma saya bisa saja kambuh karena meminum minuman yang terlalu dingin, hehhe. Selain itu teh panas ini menjadi penetralisir rasa yang terlalu manis dari Coconut Royale sebelumnya.

Selesai menikmati hidangan dari Rasa Bakery and Cafe, kita juga bisa memilih beberapa kue untuk dibawa pulang loh!


Didekat cashier, dipajang banyak sekali kue basah, kue kering, dan puding yang bisa kita nikmati untuk take away, atau saat memesan makananpun bisa saja kita hanya memesan camilan-camilan tersebut.


Selesailah hari ini. Tanggal 30 Maret 2015, dari Rasa Bakery and Cafe saya dan Iyan langsung pulang dan bersiap-siap menunggu hasil lab tentang penyakit iyan esok hari. Kira-kira bagaimana ya hasilnya? Sampai dirumah saya ditanyakan oleh mama tentang apa kata dokter tentang penyakit iyan, saya bilang saja masih menunggu hasil lab. Sambil berdoa semoga vonis sebelumnya salah, dan Iyan baik-baik saja. Aamiin.

31 Maret 2015.
Hari dimana Iyan akan tahu hasil laboratoriumnya. Saya dan Iyan akan bertemu dengan dokter jam 7 malam, namun dari jam 4 sore kita sudah bersiap-siap. Setelah mengambil hasil tes, yang tidak saya mengerti hasilnya, kita menuju ke tempat praktek dokter dilantai 2. Agak lama, barulah bertemu asisten dokter, dan sesuai janji dokter belum ada ditempat, masih harus menunggu sekitar 2 jam untuk bertemu dokter. Akhirnya kita memutuskan untuk mencari tempat makan di dalam rumah sakit. Dari hari sebelumnya, saat masuk ke rumah sakit ini ada satu tempat yang menarik perhatian kita, saya lupa namanya yang jelas terletak di lantai satu Santosa Hospital. Hanya ada satu cafetaria disana. Seperti biasa, minuman wajib adalah yang panas. Dan saya memilih teh panas lagi, sementara Iyan memilih air mineral.


Teh panas disini lebih banyak dari cafe lain, karena diberikan satu wadah khusus yang mungkin bisa untuk 2 cangkir, harganya saya lupa! OMG. Tapi kalau tidak salah, tidak lebih mahal dari teh panas di Rasa Bakery and Cafe kemarin. Menu pertama yang saya pesan adalah Spagetti Bolonaise.


Spagettinya enak! Nggak tahu karena saya belum makan siang. Yang pasti bumbu bolonaisenya pas, ditambah taburan kejunya juga pas. Tidak mengecewakanlah, bukannya makanan rumah sakit sering disamaratakan tidak enak? Yang ini enak koo! Lanjut ke menu selanjutnya pilihan Iyan adalah Soto Bandung.


Kuah soto Bandung ini sedap banget, Iyan minta saya membatunya makan. Apa daya kita menambah nasi dan kerupuk udang, hihihi. Sayangnya daging dalam soto bandung ini agak keras, sehingga perlu usaha ekstra untuk mengunyahnya. Selesai makan, Adzan magrib berkumandang. Dan besiap-siaplah kita menuju Dokter yang akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Iyan.

Cukup menyenangkan mendengar cerita Bu dokter bahwa apa yang diderita Iyan masih berupa benjolan yang bisa hilang hanya dengan meminum obat-obatan. Iyan diberi beberapa resep obat dan vitamin untuk pengendalian hormonnya. Untuk wanita, sayangilah organ intim Anda semenjak dini, Pesan dokter, setidaknya lakukanlah pemerisksaan berkala agar jika terjadi masalah bisa terdeteksi sejak dini. Yaa semoga Iyan lekas sembuh, dan diberikan Jodoh dunia serta akhirat. Aamiin.

Beginilah cerita saya sebagai hadiah ulang tahun untuk Iyan, sekarang iyan sedang bekerja di Batam. Masih sebagai DST (trainer) sebuah perusahaan waralaba (Pizza Hut). Semoga apa yang Iyan inginkan selalu terwujud. Selalu semangat dan jangan pernah menyerah ya! I love you. ^^

Comments