Tuesday, 4 February 2020

Madu Hutan, Lebih Alami dan Menyehatkan!

Saat imlek lalu, dunia digemparkan dengan mewabahnya virus korona terbaru yaitu nCov-2019. Berkeliaran broadcast di whatsapp messager tentang bagaimana cara mencegah virus tersebut. Selain menjaga kebersihan, mengkonsumsi vitamin adalah salah satu hal yang dikatakan mampu menjaga daya tahan tubuh agar tidak terinfeksi virus yang sudah menyebar ke 24 negara tersebut.


Meski tidak salah, untuk menjaga daya tahan tubuh saya lebih percaya untuk mengkonsumsi madu. Ya madu, yang sudah terkenal dengan khasiatnya yang beragam. Mulai dari menjaga daya tahan tubuh, mencegah diabetes dan kolestrol, serta segudang manfaaf lain yang sudah diakui oleh para ahli di dunia kedokteran. Tak hanya dikonsumsi sebagai makanan, madu juga bisa dipakai untuk perawatan tubuh. 

CARA MENGKONSUMSI MADU ALA AKU

Nggak cuma dimakan begitu saja, madu juga bisa banget diolah menjadi berbagai cemilan. Mulai dari kue sarang burung madu, bihun madu, pisang madu, hingga donat madu. Tapi aku paling suka jika madu dicampurkan dengan jeruk lemon. Istilah kerennya Honey Lemon Shot. Takarannya tiga sendok teh madu ditambah satu perasan jeruk lemon. Diminum setiap pagi sebelum mengkonsumsi apapun. Kebayang segernya kan? Konon minuman ini bisa menjadi terapi bagi penderita maag lho. Tapi aku sih nggak punya maag, jadi sebelom kalian coba coba tanya sama dokter dulu yaa karena kan tiap orang kondisinya beda-beda.


Sementara saat malem biasanya aku suka bikin teh madu. Jadi segelas teh panas cukup ditambah madu dua sendok makan. Syedaaap banget. Waktu abis lahiran anak kedua, aku jadiin madu sebagai asi booster. Alhamdulillah sampe saat ini anak keduaku nggak perlu tambahan susu formula.


Madu juga bisa dijadikan berbagai olahan minuman kesehatan jika dicampur dengan berbagai rempah seperti jahe, kunyit, dan kayu manis.

PERBEDAAN MADU HUTAN DAN MADU TERNAK


Madu yang aku konsumsi adalah Madu Hutan. Lebih terkenal dengan sebutan madu Odeng. Madu yang berasal langsung dari hutan Ujung Kulon tersebut memiliki rasa agak asam dan tekstur yang agak cair. Bukan karena madu tersebut jelek tapi karena memang karakter madu dari hutan lebih cair ketimbang madu ternak. Madu ternak punya rasa yang sama karena biasanya makanan lebah adalah satu jenis bunga saja, berbeda dengan madu hutan yang memiliki makanan lebih bervariasi, sehingga rasa madu hutanpun tidak tetap.


Madu hutan tentunya lebih alami daripada madu ternak, karena lebah ternak pada makanannya biasanya diberikan zat pestisida, berbeda dengan lebah hutan yang makan langsung dari tumbuhan yang tumbuh dihutan tanpa tambahan pembasmi hama. Madu hutan sendiri berasal dari lebah lokal, yang bernama Apis Dorsata. Lebah yang berukuran satu sampai dua sentimeter ini memang hidup di kawasan subtropis dan tropis, seperti Indonesia. Berbeda dengan madu ternak, madu yang dihasilkan berasal dari Apis Cerana dan Apis Melifera. Kedua lebah ini biasanya diimpor dari luar ne geri.

MENGAPA AKU MEMILIH MADU HUTAN? 

Menurutku, mengkonsumsi pangan dari hutan sama saja memberikan kontribusi pada para peternak lebah dan hutan Indonesia lho! Di Ujung Kulon, dulunya memanen madu hanyalah selingan saat sedang libur memanen tanaman pokok yang lain. Dan cara memanennya sembarangan sehingga hasil panennya tidak bisa berkelanjutan plus merusak lingkungan, hiks. Untungnya dengan binaan berbagai pihak, kini masyarakat Ujung Kulon yang menjadi peternak lebah melakukan cara lestari saat memanen madu sehingga produksi madu dapat dilakukan berkelanjutan. Hasil panen lebih baik dan menjaga ekosistem hutan dari ancaman kebakaran hutan!

Manfaat secara ekonominya dapet, ekologinya juga dapet. Iya kan? ;)

Yaelah buibu rumah tangga ngomongin hutan, kaya yang iya aja. Plis jangan bilang gitu ya gaes. Tau nggak, sampah menggunung yang pernah sampe jadi tragedi di TPA Leuwigajah itu berasal dari mana? Iyaa, hampir sebagian besar berasal dari sampah rumah tangga. Berasal dari rumah satu dan rumah lainnya, kemudian menggunung hingga akhirnya merenggut lebih dari 100 jiwa. Masalah lingkungan, jangan cuma ngandelin pemerintah ataupun lembaga dan yayasan seperti WALHI, kita sebagai kelompok terkecil dalam negara, alias keluarga juga punya peran penting buat jaga lingkungan. Oke?

Mungkin kita nggak bisa menanam sejuta pohon untuk anak cucu kita nanti, tapi aku pikir setidaknya kita bisa bijak mememilih produk yang juga peduli lingkungan. Kita bisa bijak menggunakan energi takterbarukan, dan kita harus bijak mengelola limbah untuk bumi yang lebih baik. Bumi yang lebib ramah, bumi yang tak hanya jadi tempat dimana kita menjadi maju untuk kemudian hancur. :') 

No comments:

Post a comment