Seorang gadis kecil disuruh ibunya membelikan rokok, seribu dapat tiga sekitar tahun 2000. Tak lama, Ayahnya memberikan titah. "Tolong belikan juga, rokok seribu dapat empat, cokelat warna bungkusnya". Ayah dan Ibu merokok dirumah habiskan pundi-pundi rupiah, tapi mereka kadang lupa bayar SPP sekolah. Bahkan beberapa tak bisa beli beras, tak mampu beli lauk. Entah lupa atau dilupakan kebutuhan primer sering diabaikan. Mereka bilang, itulah cara orang dewasa melepas penat. Sebuah cara mereka melupakan sejenak sengsaranya kehidupan. Lewat asap-asap yang terkadang membuat batuk, bahkan stroke, mereka melepas kesedihan. Dengan meluapnya asap-asap yang membawa jutaan kemudharatan, mereka menghempas beban hidup yang kian lama kian mengembang. Potret keluarga miskin ini sering saya lihat. Bahkan terjadi dikeluarga saya sendiri.
![]() |
| Img source : https://bit.ly/2t3MCzm |
Sejak kelas 5 SD, saya divonis punya flek diparu-paru. Pengobatan yang belum terjangkau BPJS, membuat keadaan ekonomi makin runyam. Bukannya berhenti, rokok-rokok itu makin sering dihisap. Meskipun tidak lagi satu ruangan, namun tetap saja baunya masih bisa saya kenang. Ah, andai dulu saya bisa berteriak. Menuliskan petisi untuk kedua orang tua saya atau minimal update status agar komisi perlindungan anak bisa membawa saya sebentar saja. Butuh waktu yang lama hingga akhirnya saya sembuh.
