Saya pernah ingin menjadi guru. Dulu setelah lulus sekolah kejuruan tekhnik program pertelevisian, saya berharap bisa mengajar ditempat saya belajar tentang broadcast. Dengan pengalaman sebagai editor, narator, dan camera person, saya mencoba bertanya pada guru-guru saya di Sekolah tentang bisa mengajar atau tidak di SMK tempat saya bersekolah yang notabene masih sedikit guru yang mengajar dibidang tersebut. Banyak mungkin yang sudah ahli, tapi memilih langsung terjun di industri pertelevisian karena salary yang ditawarkan tentunya lebih besar dibandingkan dengan menjadi seorang pengajar honorer.
Namun siapa sangka, jawaban dari seorang guru yang juga dulu adalah guru saya sangat mengecewakan. Ia menyarankan saya untuk kuliah lagi, kemudian mengajukan diri menjadi guru. Katanya mungkin akan diterima jika sudah atau sedang kuliah minimal S1. Itu artinya 2-4 tahun lagi.. Saya sadar, memang menjadi seorang pendidik haruslah berpendidikan tinggi. Yaa mana ada yang mau anaknya dididik oleh orang yang tak berpendidikan? Hanya saja saya yang masih anak muda dengan usia 20 tahun merasa syarat yang diberikan guru saya tersebut sangat menyakiti. Dari situlah mimpi saya mengajar perlahan hilang. Niat saya berbagi ilmu yang saya dapatkan di industri pada adik-adik kelas saya akhirnya sirna, lagipula mungkin memang saya tidak berkompeten. Ah, saya benci dengan pemikiran seperti ini, seolah saya adalah orang yang tak memiliki kemampuan, padahal saya yakin Allah memberikan saya sesuatu yang bisa saya jadikan kelebihan untuk berbagi. Biarlah, saya melupakan impian itu.